Opini

Digitalisasi Pelayanan Kesehatan, Perlukah?

Digitalisasi Pelayanan Kesehatan, Perlukah?

Salah satu contoh pada pasien yang pernah saya temui saat masa pendidikan. Pasien tersebut berusia sekitar 6-7 tahun datang dengan keluhan nyeri hingga kesulitan bergerak yang dirasakan pada perut kanan bawah yang menjalar dari pusat disertai demam dan mual muntah. Setelah bertemu dengan spesialis bedah dan dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien tersebut didiagnosa infeksi usus buntu dan disarankan untuk dilakukan tindakan operasi. Pasien menolak dan memilih untuk berobat ke salah satu negara yang saya sebut diatas. Sekitar satu bulan kemudian pasien tersebut datang kembali dengan keluhan yang sama dengan membawa hasil pemeriksaan penunjang yaitu MRI, rontgen dan hasil laboratorium lengkap, dan ternyata pasien tersebut mendapatkan diagnosa yang sama dan hanya diberikan obat anti nyeri dengan total biaya lebih dari 20 juta yang tentunya akan jauh lebih murah dengan hasil yang sama apabila berobat di Indonesia.

Lalu, apa yang mereka cari? Mengapa masyarakat kita justru lebih memilih mengeluarkan dana yang jauh lebih besar ke luar negeri daripada di Indonesia sendiri. Saya nilai ada kemudahan akses dan komunikasi antara dokter pasien di sana yang mampu membangkitkan kepercayaan antara dokter-pasien tersebut.