Para ulama menjelaskan bahwa dari sekian pengertian yang ada, hakekat Zuhud sebenarnya ialah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما ءاتاكم
Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang hilang dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS. Al-Hadid, 57: 23).
Seseorang yang dianggap bersikap Zuhud ialah tidak merasa gembira dengan memperoleh keuntungan duniawi dan juga tidak merasa sedih karena kehilangan sesuatu. Yakni Bersikap biasa-biasa saja atau bersikap sederhana, tidak berlebihan, apalagi berlebih-lebihan.
Selain istilah Zuhud ada juga istilah Wara’. Apa perbedaannya? Wara’ biasa diartikan sikap lebih berhati-hati, maksudnya meninggalkan segala sesuatu yang bisa merusak kehidupan akhirat, seperti masalah syubhat karena khawatir terjerumus ke dalam lingkaran yang diharamkan. Sedangkan Zuhud meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Zuhud lebih tinggi kedudukannya dari pada wara’.
Ada riwayat dalam kitab Hadaiq al-Haqaiq dusebutkab: Siapa yang bersikap Zuhud terhadap dunia, maka segala musibah menimpanya akan dianggap biasa-biasa saja.
Husein bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:’ Tiang agama adalah Wara’ dan bencana agama adalah keserakahan.
Sikap wara’ dan Zuhud inilah yang sudah mulai terasa terkikis hilang, sebaliknya sikap serakah dan berlebih-lebihan yang mulai banyak dipraktekkan.
