Kelompok ketiga sangat percaya Tuhan Yesus akan menyelamatkan kita, orang beriman. Sangat positip. Namun, kalimat yang mengiringi sering membuat telinga merah. “Dengan corona saja takut. Berarti imanmu belum tebal!”
Benarkah Gereja dapat menyebuhkan?
Kisah-kisah penyembuhan Yesus, dapat kita baca di buku Injil. Penyembuhan yang dilakukan Yesus langsung pada sakitnya dan seketika. Tindakan seperti ini berbeda jauh dari penyembuhan di dunia medis.
Berhadapan dengan pasien, seorang dokter, menanyakan bagian yang mana yang dirasakan sakit. Setelah itu, dokter memeriksa organ-organ lain yang terkait. Setelah proses diagnose selesai, dokter menulis resep (mengobati) sambil berkata: “Belilah obat ini. Saat meminum, Ikutilah petunjuknya. Jika belum sembuh datanglah ke sini lagi”.Ada ketidak-pastian.
Sungguh berbeda dengan penyembuhan a la Yesus. Tepat dan pasti sesuai dengan yang diminta pasien. Seorang buta ingin melihat, Yesus embuatnya dapat melihat. Seorang lumpuh ingin berjalan. Yesus berkata, “Bangun, angkatlah tilammu dan berjalan (Yoh 5:8). Dsb.
Dalam penyembuhkan yang dikisahkan Injil, terkesan Yesus ‘hanya’ menyembuhkan sakit jasmani. Benarkah?! Jika pernyataan ini disampaikan kepada para Bapa Gereja tentu akan disangggah.
