Opini

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

* Catatan Syafaruddin Usman MHD

“Tahta dan kuasa bukan segalanya. Membela Republik (Indonesia) itu utama.” Begitu ketegasan sikap lelaki paruh baya yang kesehariannya penuh wibawa santun bersahaja ini.

Sikap tegas ini dikatakannya di hadapan para sepuh, orang sebaya dan generasi muda darinya di bawah temaram malam dengan penerangan lampu seadanya.

Lelaki berperawakan sedang dan wajah kharismatis ini bukan sembarang orang. Dia adalah raja, penguasa dan pemegang tahta yang duduk di singgasana. Adalah Gusti Mohammad Afandie Ranie. Ketika kata-kata bernas itu diucapkan, dia adalah Pangeran Mangkubumi Setia Negara Kerajaan Landak di Ngabang.

Kata-kata dari mulut sang raja adalah sabda penguasa yang bertahta dan tak terbantahkan. Dan apa yang diungkapkannya itu adalah itikad dan kehendak yang patut diikuti rakyatnya.

Dan sang raja penuh wibawa itu pun melanjutkan kalimatnya, “Berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini ketegasan. Bukan pilihan. Tapi kewajiban. Indonesia milik kita, maka bela Indonesia hingga hembus napas terakhir,” paparnya dengan suara menggelegar.

Bak halilintar membelah bumi, titah sang raja tak seorang pun rakyat Landak menyanggahnya. Kesemua yang mengelilinginya pada larut malam itu semua berikrar mengikuti semua perintah sang raja penuh pesona ini.