Maka hentilah pertempuran Landak terutama di Ngabang sejak tertangkapnya Gusti Afandi bersama Gusti Abdulhamid Aun, Gusti Lagum dan kaum republikein serta pemuda militan lainnya.
Di penjara Sungai Jawi Pontianak, Gusti Afandi pun meringkuk. Satu hari Gusti Afandi yang tak gentar dengan nyawa sebagai taruhan untuk membela republik ini, didatangi seorang asisten demang atas perintah residen di Pontianak.
Kedatangan “kaki tangan” kolonial itu tak lain untuk membujuk sang raja agar menyatakan keberpihakannya kepada rezim kolonial Belanda di West Borneo.
“Aku ingatkan kepada kamu, seperti juga aku ini, kamu adalah orang Indonesia maka Indonesialah yang patut kamu bela hingga matimu, sangat tak manusiawi untuk menyandang sebuah jabatan tapi berkhianat pada nusa dan bangsa,” hardik Gusti Afandi dari balik jeruji besi penjara Sungai Jawi Pontianak kepada sang asisten demang yang tak lain adalah rekan sejawatnya dulu di Ngabang.
Dengan wajah geram putra Indonesia yang propenjajah itu pun berlalu meninggalkan Gusti Afandi.
“Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah, merdeka atau mati, Republik Indonesia harga mati,” begitu ketegasan sikap Sang Raja Gusti Afandi yang mempersembahkan tahta kuasanya untuk Republik Indonesia.
