Opini

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Sementara Ya’ Nasri Osman alias Ya’ Dedeh menemui ajal dilarung ke laut lepas oleh kaki tangan NICA Belanda di teluk Jakarta saat pemimpin penyerbuan tangsi militer Ngabang ini saat dibawa untuk berobat ke Jakarta setelah mengalami sakit parah akibat siksaan tak berbatas selama meringkuk dalam penjara Belanda di Pontianak. Demikian pula Gusti Mohammad Said Ranie yang adalah adik dari Gusti Afandi sendiri. Said pun menemui ajal akibat tekanan penjajah Belanda yang mengintrogasinya bertubi-tubi.

Alhasil, dalam perang dengan senjata yang tak berimbang antara rakyat Landak dengan militer Belanda Oktober hingga Nopember 1946, dan juga akibat kelicikan Belanda menebar spionasenya, akhirnya Gusti Afandi tertangkap.
Wibawa yang dimilikinya menyebabkan militer Belanda segan untuk meringkusnya, tapi laksana singa yang memgamuk, Gusti Afandi terus menentang kolonial Belanda.

Geram dengan keberingasan sang raja Landak ini, Sersan Nyenhuijs komandan tempur militer Belanda di Ngabang hampir menembakkan senapan mesinnya ke tubuh Gusti Afandi.
Tak bergeming dengan ancaman itu, sebaliknya Gusti Afandi lantang menantang, “tunggu apalagi, tembaklah ayo tembakkan senapanmu” tantangnya.

Begitu geramnya prajurit muda itu akhirnya memerintahkan untuk memborgol tangan Gusti Afandi dan mengirimnya ke penjara Sungai Jawi Pontianak.