Opini

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Pengalaman mengikuti sang ayah, Gusti Abdurani Pangeran Natakusuma, di tanah pengasingan hingga mangkat di Bengkulu, semakin membulatkan semangat Gusti Afandi untuk kian menggelorakan semangat anti kolonial.
Perjuangan rakyat Landak dibawah pimpinan Gusti Afandi, di mana Gusti Abdulhamid Aun, Gusti Mustafa Sotol, Gusti Tamdjid, Gusti Saleh Aliuddin, Gusti Lagum Amin, Ya’ A Rahim Anom dan kerabat lain yang menggerakkan, tercatat sebagai perlawanan rakyat Indonesia di Kalimantan Barat periode 1945–1949 sebagai perjuangan revolusi fisik dengan skala besar.

Besar dalam tindakan heroik dan besar pula korban jiwa yang timbul akibatnya. Bardan Nadi Sutrisno bersama sang putri jelitanya Paini Tresnowati yang saat itu berusia sekitar 5 tahun harus tumbang ke tanah diterjang peluru militer Belanda. Bahkan Bardan adalah putra pertiwi pertama yang diekskusi mati di Indonesia pada 17 April 1947.
Begitupun nasib nahas menimpa Mane Pak Kasih, Bunyamin H Usman, A Kasim H Usman, A Rani mereka diberondong tembakan gencar hingga erangan suara lirih yang paling akhir sembari mengucapkan kata “teruslah berjuang”.