Opini

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Gusti Afandi Ranie, Sang Mahaputra Indonesia

Begitulah suasana penuh heroik 73 tahun silam. Zaman penuh asap mesiu itu tak lepas merundung Ngabang.
Sejak 9 Oktober 1946 pukul 00 dinihari, Gusti Afandi memimpin grilya dan pertempuran di Landak. Pilihan hidup atau mati untuk Republik adalah motivasi yang menggerakkan hati nuraninya untuk terjun berjuang.
Bak harimau ganas, lelaki santun dan sejatinya dikenal pendiam itu “mengamuk” dibelantara Landak negeri yang dipimpinnya.

Kepada Gusti Abdulhamid Aun, Gusti Mohammad Said, Ya’ Nasri Osman, Bardan Nadi, Mane Pak Kasih, Bunyamin H Usman, Hamdan Budjang, Kimas Akil dan Merseb A Rahman serta lainnya, diinstruksikan Gusti Afandi untuk terus bertempur hingga tetes darah penghabisan.

Ngabang, negeri yang tak pernah henti dari pemberontakan menentang kolonial Belanda. Gusti Afandi sangat menyadari itu, sejak leluhurnya Ratu Mas Adi hingga kakek buyutnya Haji Gusti Kandut Mohamad Tabri Pangeran Nata Wirakesuma sampai ayahnya Gusti Abdurani Pangeran Natakusuma yang memimpin perlawanan rakyat Landak, menjadikan Gusti Afandi kian mantap untuk melanjutkan perjuangan bersenjata di kewedanaan Landak.