Lalu lelaki gagah yang selalu merakyat ini pun mengunci semua ungkapannya, “Aku paling depan memimpin rakyat Landak, majulah berjuang dan berperang. Harus menang. Sekalipun kita mati, untuk Indonesia, kita rela. Dan tahtaku adalah untuk Indonesia.”
Kata-kata bernas bak ombak memecah karang di laut lepas itu diungkapkannya beberapa jam sebelum meletusnya Pemberontakan Rakyat Landak, memasuki 10 Oktober nun 73 silam di tahun 1946. Dini hari saat itu memulai hari Jumat.
Dan selepas itu, meletuslah pertempuran hebat rakyat Landak terutama di Ngabang ibukota atau pusat dari onderafdeling di West Borneo itu.
Sejatinya Gusti Afandi bisa saja bersenang-senang atau berdiam diri, kolonial Belanda yang berusaha kembali menjajah meski Indonesia telah merdeka, pun bisa pula mendekat padanya, namun pilihan Gusti Afandi adalah lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah.
Sang raja yang memastikan tahtanya untuk rakyat dan Indonesia itu tegas bersikap anti dan nonkooperatif terhadap Belanda.
Tak urung, controleur AB Faber yang memimpin Belanda di Landak ditolaknya ketika sang controleur yang berpangkat gezageber itu ingin bertemu.
“Tak ada yang perlu dibicarakan. Landak bagian dari Indonesia, Belanda bukan tuan kami dan kami bukan lagi jajahan. Kemerdekaan bangsa kami patut kami pertahankan”, begitu lontarannya seraya mengusir sang controleur saat mendatangi dikediamannya di Kampung Raja Ngabang.
