Dalam keseimbangan itulah mereka tunduk, sujud, pasrah kepada-Nya. Maka nikmat Tuhan manakah yang kita–manusia dustakan? Ayat ini berulang ulang antara inversi dan konversi. Antara pertanyaan dan jawaban dalam struktur kata serta kalimat yang sangat indah. Saking indahnya tidak sedikit yang menjadikan Surah Ar Rahman ini sebagai mas kawin pernikahan. Yakni dengan membacakan hapalan Ar Rahman yang indah dan menusuk hati sampai-sampai mendengarkan kemerduan bacaannya kita bisa menangis-menjatuhkan bulir-bulir air mata. Nah, di dalam kisah lanjutannya, ada dua syurga yang diciptakan Allah untuk manusia yang takwa kepada-Nya, bahwa setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan. “Hal djaza’ul ihsan illah ihsaan.”
Jika dibaca dalam shalat, maka akan ruku’ di mana secara biologis menunjukkan penghormatan luar biasa. Yakni penghormatan antara hamba dengan pencipta. Kita memuji Tuhan dengan segala firman-Nya maupun ciptaan-Nya.
Gerakan berikutnya berganti i’tidal. Komando dari hati terbaca, “Sami’Allahuliman HAMID-dah”. (Allah Yang Maha Mulia Maha Mendengar).
Begitulah di dalam sembahyangnya umat Islam selalu menyebut-nyebut frasa HAMID. Sedikitnya 17x dalam sehari-semalam sebagai rakaat yang wajib dalam shalat lima waktu. Jumlah itu akan bertambah jika dikerjakan shalat-shalat sunnah, pagi, siang dan malam. Maka hati setiap mukmin akan langsung satu frekuensi dengan Ar Rahman yang tiadalah balasan kebaikan melainkan kebaikan.
