in

Hamid: Kebaikan Pasti Dibalas Kebaikan

nur iskandar

Oleh: Nur Iskandar

Namanya Hamid, artinya mulia. Kalau ada seseorang bernama Hamid atau akar katanya Ahmad berhati mulia adalah wajar, sebab itulah maksud pemberian nama dari kedua orang tua. Bahwa nama mengandung unsur doa atau harapan. Yakni harapan yang sesuai dengan namanya. Ya, karena dengan namalah sesuatu itu dikenal dan dikenang. Dengan nama yang mulia diharapkan menjadi doa kemuliaan. Sejak lahir hingga akhir hayat.

Pada Quran surah ke-55 letter luck judulnya adalah “Ar-Rahman”. Artinya Maha Kasih dan Maha Sayang. Maha Kasih-Nya Tuhan tiada pernah pilih kasih. Maha Sayang-Nya Tuhan juga tiada pernah berbilang. Tiada batas. Ibarat lautan yang tak bertepi. Pada surah Ar Rahman ini Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar Rahman tersebut. Dia mengajarkan Alquran. Dia nyata-nyata menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan manusia. Dan Dia pula yang mengajarkan manusia pintar berkomunikasi dalam banyak bahasa. Termasuk bahasa isyarat. Dia menyebutkan bahwa matahari, bulan dan bintang, semua tunduk kepada-Nya dalam kosmos seimbang atau setimbang.

Dalam keseimbangan itulah mereka tunduk, sujud, pasrah kepada-Nya. Maka nikmat Tuhan manakah yang kita–manusia dustakan? Ayat ini berulang ulang antara inversi dan konversi. Antara pertanyaan dan jawaban dalam struktur kata serta kalimat yang sangat indah. Saking indahnya tidak sedikit yang menjadikan Surah Ar Rahman ini sebagai mas kawin pernikahan. Yakni dengan membacakan hapalan Ar Rahman yang indah dan menusuk hati sampai-sampai mendengarkan kemerduan bacaannya kita bisa menangis-menjatuhkan bulir-bulir air mata. Nah, di dalam kisah lanjutannya, ada dua syurga yang diciptakan Allah untuk manusia yang takwa kepada-Nya, bahwa setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan. “Hal djaza’ul ihsan illah ihsaan.”
Jika dibaca dalam shalat, maka akan ruku’ di mana secara biologis menunjukkan penghormatan luar biasa. Yakni penghormatan antara hamba dengan pencipta. Kita memuji Tuhan dengan segala firman-Nya maupun ciptaan-Nya.

Baca Juga:  Kenang Istri Eko: Tata

Gerakan berikutnya berganti i’tidal. Komando dari hati terbaca, “Sami’Allahuliman HAMID-dah”. (Allah Yang Maha Mulia Maha Mendengar).

Begitulah di dalam sembahyangnya umat Islam selalu menyebut-nyebut frasa HAMID. Sedikitnya 17x dalam sehari-semalam sebagai rakaat yang wajib dalam shalat lima waktu. Jumlah itu akan bertambah jika dikerjakan shalat-shalat sunnah, pagi, siang dan malam. Maka hati setiap mukmin akan langsung satu frekuensi dengan Ar Rahman yang tiadalah balasan kebaikan melainkan kebaikan.

107 hut sultan hamid II

Kita punya bacaan shalawat setiap tahiyat akhir di dalam shalat. Di sana kita mengucapkan salam sejahtera kepada Nabi SAW berikut keluarga dan para sahabatnya. Siapakah keluarga Nabi Muhammad sebagaimana keluarga Ibrahim/Abraham itu? Ternyata dapat dibangun pohon keluarga tersebut. Jika kita urutkan salah satunya sampai kepada Sultan Hamid yang telah memberikan kepada kita kebaikan Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila, simbol lencana negara yang menyatukan. Ini adalah catatan kebaikan dari Sultan Hamid yang tiada banding dengan lencana-lencana atau simbol-simbol lainnya–kecuali bendera merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Uniknya, penjahit bendera Fatmawati Soekarno kendati sekali menjahit ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, kemudian WR Soepratman kendati teks lagunya banyak mendapatkan koreksian dari berbagai pihak tetaplah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Hal djazaa’ul ihsaan illal ihsan berlaku. Kepada Sultan Hamid II Alkadrie melalui uraian di atas juga PASTI akan berlaku karena ini sudah disebutkan dalam firman Tuhan Yang Maha Pengasih tidak pernah pilih kasih–Yang Maha Sayang di mana sayang-Nya tidak berbilang.

Kalau kepada figur Sultan Hamid Sang Perancang Lambang Negara belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional hal itu urusan waktu saja, karena banyak pihak belum mengenal sosok dan kiprahnya melainkan yang dikenal adalah fitnah kepada dirinya sebagai pengkhianat negara, padahal fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Fitnah itu jauh baunya dari syurga yang dijanjikan Tuhan dalam QS Ar Rahman. Jauh dari sholawat kepada Nabi dan keluarganya. Semoga tukang fitnah itu diberikan hidayah dari Tuhan Yang Maha Kuasa–Tuhan Yang Maha Pengampun di mana jika mereka itu muslim, lebih menghayati arti dan makna Alfatihah yang selalu minta ditunjukkan jalan yang lurus, yakni jalan orang orang yang diberikan kenikmatan–bukan jalan orang orang yang disesatkan. Mari kita cek putusan Mahkamah Agung tahun 1953 tentang fitnah Sultan Hamid II melakukan makar dengan bersekongkol dengan Westerling, ternyata dalam putusan MA itu tidak ada bukti yang cukup pada tuduhan tersebut sehingga fitnah ini dieliminir. Dengan demikian MA pun mengakui tidak tepat ada fitnah kepada Sultan Hamid melakukan makar kepada negara yang dicintainya juga oleh kita semuanya. Lalu kenapa Sultan Hamid divonis 10 tahun penjara dipotong masa tahanan? Hal ini karena unsur politis, di mana kita bisa pelajari setting agenda politik dan situasi politik yang mengitari kemerdekaan Indonesia 1945-1950 tersebut. Memang di sana masa paling kritis Indonesia merdeka yang pasti ada korban-korban politiknya. Termasuk Sultan Hamid. Kini, 75 tahun Indonesia merdeka. Semoga NKRI ini berada di jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan kenikmatan, melalui lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila yang menyatukan. Di mana kita ber-Ketuhanan YME. Ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ber-Persatuan Indonesia. Ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

seminra nasional

Saya mengikuti uraian banyak tokoh tentang Pancasila di layar kaca. Baik di Mata Najwa maupun ILC Bang Karni Ilyas, termasuk sajian berita TV maupun media massa. Bahwa negara secara de-facto sudah mengakui karya adiluhung Sultan Hamid. Cek film dokumenter siapa perancang lambang negara Kementerian Luar Negeri RI melalui Museum Konferensi Asia Afrika. Cek lambang negara karya Sultan Hamid sudah menjadi cagar budaya tak benda peringkat nasional yang ditanda-tangani Mendikbud Prof Dr Muhajir Effendy. Cek pula mata pelajaran sejarah sejak SD-SMP-SMA-hingga Perguruan Tinggi di Depdikbud dan Dikti. Juga buku empat pilar MPR RI. Semua sudah mengakuinya…… Di sana — melalui ILC Mahfud MD bicara dari GBIP, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Pakar hukum tata negara Refli Harun.

anshari dan muis

Gubernur Lemhanas. Termasuk sejarahwan Dr Anhar Gonggong dan Prof Dr Salim Said. Di mana mereka semua bersikap bahwa Pancasila harus diselamatkan. Harus dimaknai dengan sedalam-dalamnya. Juga harus disyukuri karena kita di NKRI ini punya Pancasila yang menyatukan di mana oleh Sultan Hamid, semua rekaman pembahasan para founding fathers, istilah Refli Harun adalah Founding Parents Indonesia, telah disatukan secara indah di Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. “Jangan sampai terjadi, dia menjadi binatang paling langka yang harus diselamatkan,” kata begawan ilmu politik dan pertahanan–guru besar di Universitas Pertahanan Prof Dr Salim Said di arena ILC seri Indonesia Maju–memperingati 75 tahun Indonesia Merdeka. Melalui keindahan QS Ar Rahman saya juga menyerukan–menjelang hari kesaktian Pancasila ini mari kita berikan penghormatan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Hamid II Alkadrie Sang Perancang Lambang Negara, yang hingga kini berjasa baik kepada Bangsa dan Negara sebagai simbol yang menyatukan.

Baca Juga:  Demi Generasi Penerus, Konsep Dusun Hijau dan Merah di Klinik Asri

Kata Tuhan dalam QS Ibrahim, “Barangsiapa yang pandai bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmatnya. Barangsiapa yang tiada pandai mensyukuri nikma-Ku, maka awaslah, bahwa azab-Ku amat pedih.”

Kita menjelang 1 Oktober hari Kesaktian Pancasila mesti menyelamatkan nilai-nilai Pancasila. Termasuk menghargai jasa pahlawan yang telah berjasa besar mewariskan Lambang Negara dengan Pancasila tergantung di depan dada-bahkan jantungnya Elang Rajawali Garuda Pancasila.

Fabiayyi ‘ala-irobbikuma tukadzziban. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mari kita menjadi warga bangsa yang mulia (Hamid) dengan memuliakan (menghamidkan) para pahlawan kita di mana mereka dengan setia menegakkan Pancasila. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Komik-sejarah pahlawan

Membangun Nasionalisme Anak Sekolah Lewat Komik Sejarah

leo

Unggul yang menyerah kalah