Sebagai bukti bahwa manusia berusaha ‘lepas’ dari kematian adalah usaha untuk mengakhiri perang, kemiskinan, dan penyakit. Hasilnya, banyak orang yang meninggal saat ini bukan karena peperangan tetapi karena sengaja bunuh diri. Banyak orang meninggal bukan karena kelaparan tetapi karena terlalu banyak mengkonsumsi ‘junk foods’. Demikian juga, dapat disaksikan orang mati bukan karena penyakit yang diderita tetapi karena diet kesehatan yang terlalu keras. Pendeknya, orang ingin ‘memperpanjang’ hidupnya (kalau bisa tidak usah mati, immortality).
Di bagian ketiga dipaparkan usaha memperpanjang hidup ini didukung usaha besar-besaran untuk mengembangkan teknologi. Hingga kini, disepakati bahwa teknologi dikembangkan untuk membuat hidup manusia lebih nyaman. Rekayasa bioponik bermunculan di seluruh dunia. Orang berlomba mengembangkan terus-menerus ‘artificial intellegent’ berseta algoritmanya. Robot-robot ‘hidup’ bermunculan dimana-mana.
Pada titik ini, ‘pikiran’ secara bertahap dipisahkan dari ‘kesadaran’. Dan, kini, kita sudah menyaksikan perpisahan itu. Orang mulai lebih percaya kepada data ketimbang pada apa yang dirasakannya. Muncullah ‘agama’ baru, yaitu ‘dataisme’. Orang mulai meletakkan data di atas segalanya. Berhadapan dengan data, semua tunduk, politik tunduk, hukum tunduk, kemanusiaan tunduk dsb. Karena itu tidak menjadi masalah ketika nenek renta dihukum gegara terbukti (secara formal) mencari kayu. Anak remaja dihukum karena membunuh orang yang menjambret dirinya dsb).
