Opini

Homo Deus: Manusia yang dipertuhankan

Homo Deus: Manusia yang dipertuhankan

Oleh: Leo Sutrisno

Buku ‘Homo Deus: A Brief History of Tomorrow’ karya Sejarawan Israel, Prof Yoval Noah Harari, dari Universitas Hebrew, Yerusalem, menghentak dunia sejak diterbitkan (bhs Hibrani 2015, bhs Inggris, UK 2016; AS 2017). Review para ahli banyak yang pro dan juga yang kontra. Namun demikian, saya baru menemukannya awal Oktober 2019, di sebuah bandara di Indonesia. Tidak lama kemudian, saya memiliknya sebagai hadiah dari istri.

Membaca buku setebal 462 halaman, yang dilengkapi dengan referensi 30 halaman (463-493), membuat ‘senam jantung’ – berdebar-debar. Walaupun, Sesungguhnya pemikiran di dunia fisika sudah mengembangkan ‘string theory’ alam semesta beserta isinya. Alam semesta dibayangkang seperti sekumpulan kapas yang tiap titiknya selalu bergerak-gerak. Gerakan satu titik tertentu membuat titik lain bergerak-gerak juga. Perkembangan setiap menusia dipengaruhi oleh perkembangan manusia lain berserta habitatnya.

Di masa depan, tidak terlalu lama lagi, manusia masing-masing akan meningkatkan dirinya sebagai ‘dewa’ (turn Homo Sapiens into Homo Deus, h. 24). Kita tahu, dari pewayangan, bahwa dewa mempunyai kekuasaan dan kekuatan yang melebihi kekuasaan dan kekuatan manusia. Dewa juga tidak pernah mati (iortal).