Kiranya, yang membuat kemampuan berbahasa Indonesianya bertambah adalah dia datang langsung ke Indonesia sehingga bisa berbahasa Indonesia dengan banyak penutur langsung dan di lokasi di mana bahasa itu digunakan. Dia berada di pusat wilayah di mana bahasa yang mereka pelajari, digunakan.
Saya sering membandingkan kemampuan mereka ini dengan kemampuan saya dan mahasiswa di Pontianak–mungkin juga di Indonesia.
Di tempat kita, di sini, bahasa Inggris dipelajari selama beberapa semester. Berdasarkan pengalaman saya, saya belajar sejak tahun- tahun awal sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Bahkan hingga kuliah saya juga belajar bahasa Inggris. Ada Bahasa Inggris 1 hingga Bahasa Inggris 4.
Tapi, mungkin saya yang lembab, susah paham. Saya tidak bisa bahasa Inggris aktif sampai hari ini. Rasanya, kawan sekelas saya juga begitu. Tak banyak bisa.
Mengapa? Mungkin potensi dan dukungan menguasai bahasa asing terbatas. Kita tidak terbiasa dengan bahasa asing. Agak jarang ada orang di sekitar kita yang merupakan jenis orang bilingualis –Indonesia dan Inggris. Jarang juga yang poliglot, tahu banyak bahasa.
Ketika kerisauan ini saya sampaikan dalam percakapan dengan mahasiswa, mereka merasakan hal yang sama.
Katanya, “Kami hanya tahu sedikit, ini, ini… itu”.
