Koran-koran pelanggannya mulai berteriak. Berita-berita Aneta dianggap bias dan penuh penyalahgunaan kekuasaan akibat kedekatannya dengan pemerintah. Berretty melawan “pemberontakan” ini dengan membiayai penerbitan Indische Courant pada 15 Desember 1921 di Batavia. Berretty menambah amunisi perlawanannya setahun kemudian dengan menerbitkan majalah mingguan De Zweep. Sesuai namanya yang berarti “cambuk”, De Zweep “mencambuk ” siapa pun yang menjadi lawannya. Sayang, majalah ini gagal di pasaran karena tidak dilirik pengiklan. Isinya pun dikritik karena memuat pornografi dan mengobarkan semangat anti-Semit.
Meski gesekan terus berlangsung, Berretty tetap bertahan karena kedekatannya dengan pemerintah. Pukulan balik malah dilancarkan oleh korannya sendiri, Indische Courant, yang meminta Berretty untuk menghentikan peredaran De Zweep karena telah menghina editorial yang dibuat Courant. Konflik Courant-De Zweep semakin runyam setelah wakil direktur Aneta P.R.A. Bekker menghentikan pasokan berita ke Courant saat Berrety tengah berada di luar negeri. Kasus ini akhirnya dibawa ke pengadilan pada tahun 1923. Aneta kalah dan diharuskan membayar kompensasi dan melanjutkan pengiriman berita. Kasus itu jelas mencoreng nama Berretty. Setelah tiba ke Batavia, dia melakukan “pembersihan”. Bekker dipecat dan Berretty memulihkan hubungannya dengan Courant. De Zweep lalu dijual dan Berretty menerbitkan mingguan baru bernama d’Orient.
