Masalah Berretty tak berakhir di situ. Pada Februari 1930, seorang anggota parlemen menuduh Aneta menjalankan bisnis secara monopoli. Sebuah komite yang dibentuk untuk menyelidiki tuduhan itu menemukan bahwa Aneta dengan telah menyalahgunakan dominasinya untuk menekan koran-koran. Akhirnya parlemen mengeluarkan peringatan keras kepada Aneta agar tidak lagi “secara langsung maupun langsung mengganggu urusan internal pers atau bisnis mereka”.
Hasil penyelidikan atas Aneta merusak citra dan reputasi Berretty. Menurut editor Bataviaasch Nieuwsblad, J.H. Ritman, Berretty yang saat itu berusia 43 tahun mengalami depresi mental yang sulit disembuhkan.
Di tengah kesulitan yang menghadang bisnisnya, Berretty tetap menjalani kehidupan yang sensasional. Pria yang pernah kawin-cerai sebanyak enam kali ini sempat membangun sebuah vila megah di jalan Bandung-Lembang, Jawa Barat. Tempat peristirahatan yang diberi nama Isola itu mulai dibangun pada tahun 1933 di atas tanah seluas 12 hektar dan menghabiskan biaya sebesar 500.000 gulden (setara 250.000 dolar AS dengan kurs saat itu).
Berretty hanya menikmati keindahan vila itu sejenak saja. Pada tahun 1934, dia pergi ke Eropa untuk menjajaki penjualan Aneta yang kondisinya sudah tak tertolong. Saat kembali ke Batavia, pesawat Douglas DC-2 Uiver yang ditumpanginya jatuh di gurun Suriah dan menewaskan taipan media dari Batavia itu…(dikutip dari laman FB Andreas Harsono, 3/8/20)
