Wawasannya pun amat luas, seiring dengan buku-buku berbahasa internasional yang ia lahap. Cita-citanya adalah menjadi seorang militer, mungkin terinspirasi dari sang ayah yang juga merupakan tokoh kepanduan—sekarang dikenal sebagai kepramukaan. Pendidikan dasar hingga menengah atas ia tempuh di Pulau Jawa. Di masa SD, ia bahkan sudah menjalin persahabatan akrab dengan Hamengkubuwono IX, putra Sultan Yogyakarta. Petualangan pendidikannya berlanjut ke ITB, sebelum akhirnya meraih beasiswa bergengsi ke Akademi Militer di Breda, Belanda, hingga lulus sebagai Letnan Dua. Kala itu, kepulauan Nusantara masih dikenal sebagai Hindia Belanda—sebuah sebutan yang menandakan status kolonialnya di bawah kekuasaan Belanda.

Sebelumnya nama gugusan pulau-pulau Nusantara kita disebut Malay Archipelogo atau Malay Nesos atau Malaynesia, karena masyarakat pesisirnya menggunakan bahasa komunikasi antara sesamanya, yakni Melayu. Sebab itu Malynesia disebut juga Hindia-Nesos atau Indo-Nesos–kelak menjadi Indonesia. Jadi, nama Indonesia secara historis adalah penyebutan nama gugusan kepulauan Nusantara. Lalu siapakah kita yang disebut Indonesia itu? Ya nenek moyang kita yang merasa senasib sepenanggungan, karena sama bahasa, bangsa dan Tanah Air seperti ikrar Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928. Mereka juga pernah sama-sama merasa senasib sepenanggungan dengan jangkau rasa kekuasaan Sriwijaya (Sumatera) dan Majapahit (Jawa).
