Imlek dikenal juga dengan nong li (baca: nung li), artinya penanggalan petani, di mana hal ini bisa dimaklumi, sebagian besar orang zaman dulu adalah bertani. Para petani tersebut mengandalkan kemampuan mereka membaca alam, pergerakan bintang, rasi bintang, bulan, dan benda angkasa yang lain untuk bercocok tanam. Apalagi di Tiongkok yang empat musim, perhitungan tepat dan presisi harus handal untuk mendapatkan pangan yang cukup.
Beberapa menu yang paling sering dihidangkan saat perayaan Imlek bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, terutama di Pontianak dan Singkawang dan sekitarnya, antara lain kue keranjang.
Bukan sekadar sebagai hidangan, tetapi di balik itu, kue keranjang juga melambangkan arti dan pengharapan tersendiri. Harapan atas tahun baru yang penuh dengan kemakmuran dan keberuntungan.
Kue keranjang dengan berbagai nama lainnya: kue bakul dan dodol cina, kue keranjang yang dikenal sekarang hanya ada di Indonesia, dengan sedikit penyebaran di Singapura dan Malaysia.
Kue keranjang mirip dengan dodol. Terbuat dari gula merah dan tepung ketan, rasanya sangat manis dan legit. Pembuatannya memakan waktu yang lama, dari 6 hingga 12 jam.
Tekstur lengket kue keranjang ini melambangkan keeratan hubungan keluarga. Selain dimakan langsung saat masih lembut, kue keranjang juga dapat dinikmati beberapa hari setelahnya dengan cara dibalur telur, lalu digoreng.
