Panjang cerita, saya sempatkan diri bertanya: mengapa tak jadi maju menjadi calon kepala daerah. Modal perahunya ada. Partainya partai besar. Dia punya perahu hampir cukup untuk ditumpangi menuju 1 A itu. Jika bukan walikota, wakil pun bisa.
“Saya realistis, Bung”.
“Saya ada perahu, tapi untuk menggerakkannya kan perlu biaya. Banyak”.
“Saya tak punya banyak modal, oi…”
Ya, begitulah. Lagi-lagi, realitasnya, perlu modal. Kalau bahasa teman yang pernah gagal dalam pilkada, kita harus siap em em. Maksudnya miliaran rupiah.
“Uang macam tak berseri,” begitu istilah teman lain yang pernah menjadi pendamping cakada di Kalbar.
Kawan itu sudah mendapat pencerahan melalui proses sebagai “pemain”. Dia sudah tahu luar dalam.
Ya, begitulah realitasnya. Saat pemilu, saat bertarung bagi tokoh, saat panen bagi “pialang”, saat makan bagi peserta–makanya, bisa dipahami 100 persen kalau ada yang mengatakan pemilu adalah pesta bla…bla…. Tidak ada pesta yang tak berbiaya. Harta, pesta kawin, sunatan, syukuran, selamatan, dst…
Pada perkembangan selanjutnya, berbagai istilah untuk uang yang dikeluarkan saat pesta. Kosa kata atau kadang makna baru muncul. Money politic, amunisi, hingga mahar.
