Opini

Memupuk Girah Filantropi di Tengah Pandemi

Memupuk Girah Filantropi di Tengah Pandemi

Oleh karenanya perlu untuk membangun kesadaran kolektif filantropi di semua kalangan, semua kasta, bahkan bila perlu seluruh agama. Saat ini benar-benar terjadi, distribusi kekayaan akan merata sebagaimana misi Ekonomi Islam.

Poin utama dari harapan ini adalah bagaimana metode kita dalam memulai dan membangun karakter berfilantropi. Membuang keserakahan dan kerakusan. Bukan malah memanfaatkan kesempatan di ruang sempit, menzalimi orang lain, dan menjatuhkan martabat peri kemanusiaan.

Di tengah wabah berbahaya ini, seharusnya kita semakin sadar akan pentingnya berbagi, berjiwa dermawan terhadap sesama. Bijak jika kita memetik hikmahnya, bebal jika kita melawan arus begitu saja.

Kebijakan pemerintah melakukan segala upaya dari lockdown, PSBB, dan semisalnya adalah percuma jika kita abai tanpa empati. Mematuhi aturan yang berwenang sudah menjadi keharusan masyarakat.

Sungguh karakter masyarakat kita belum sepenuhnya mampu selayaknya Swedia. Kebijakan Swedia yang begitu mengguncang dunia, ada pro dan kontra karena mengeluarkan kebijakan kontroversi. Seperti yang dikatakan Saur M. Hutabarat (2020, Media Indonesia) kebijakan Swedia adalah “Behave like adults” bersikap dewasa dalam menghadapi masalah. Mereka tidak melakukan lockdown, semua berjalan sewajarnya. Pemerintah percaya pada rakyat dan rakyat percaya pada pemerintah tanpa ada tabir pemisah.

Terlepas dari persoalan tersebut, dengan semua yang telah terjadi mari kita tetap dukung Indonesia, kebijakan kita kebijakan Indonesia bukan Swedia.