Opini

Mengenang Hari Berkabung Daerah dengan Pemasangan Bendera Setengah Tiang

Mengenang Hari Berkabung Daerah dengan Pemasangan Bendera Setengah Tiang

Selaku jurnalis, sejak di Mimbar Untan tahun 1992 saya bersama pemerhati sejarah Syafaruddin Usman kerap kali menurunkan laporan tentang Peristiwa Mandor ini. Laporannya dituangkan ke dalam koran kampus yang terbit berkala. Namun kemudian kami sibak lebih leluasa di Jawa Pos Media Group di mana Syafaruddin Usman pernah bekerja di Pontianak Post sedangkan saya di Harian Equator (Jawa Pos News Network). Alhasil Syafaruddin Usman menulis buku lebih rinci mengenai Peristiwa Mandor, sedangkan saya merintis kerjasama bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di penghujung masa bakti Gubernur Usman Ja’far berupa seminar nasional perjuangan daerah, Mandor. Seminar itu diikuti sanak-famili keluarga korban, akademisi dan pemerhati sejarah, selain pihak terkait terutama Pemprov, wakil rakyat di DPRD dan DPR-RI, termasuk Komnas HAM.

Dari hasil seminar nasional itulah, kemudian lahir rekomendasi pemasangan bendera setengah tiang setiap 28 Juni. Kenapa 28 Juni? Sebab pada tanggal tersebut penemuan makam massal genosida, sehingga tersibak adanya perjuangan rakyat Kalimantan Barat di mana para raja dan cerdik pandai se-Kalbar diculik Jepang dan tak diketahui kemana rimbanya…Pada tanggal 28 Juni itu pula yang digunakan Gubernur Kadarusno pada masa kepemimpinannya di Kalbar untuk memperingati para syuhada Mandor.