Itulah kelebihan yang kita miliki. Kita sebenarnya merupakan masyarakat futuris yang berpikir jauh ke depan. Ini adalah bagian dari orang-orang yang dididik dalam lingkungan orang yang visioner.
Sekarang, kelebihan kita ini sedangkan diuji-benturkan dengan kepercayaan kita kepada Allah. Iman kita sedang disoal melalui kepercatyaan pada takdir baik dan buruk.
Sebagai muslim kita diajarkan tentang takdir. Kita diajarkan tentang harapan dan kenyataan. Ada harapan yang terwujud, dan ada yang tidak.
Kita diajarkan bahwa di atas semua kehendak kita ada kehendak Allah. Jika kehendak atau rencana kita tidak terlaksana, kita diajarkan untuk pasrah, menyerahkannya pada Allah.
Sekarang, bertemu dengan pandemi corona adalah takdir kita. Tidak pernah muncul dalam bayangan kita hidup seperti ini hanya dengan virus yang semula dianggap kecil dan remeh temeh.
Corona telah membawa dampak luar biasa. Bagi kita umat Islam, gegara corona, lebaran tahun ini berbeda dibandingkan dengan bayangan kita kemarin dan saat lebaran tahun lalu. Lebaran bersama dalam kemeriahan, bakal tidak hadir pada lebaran ini.
Inilah takdir kita bersama. Kira-kira, kehendak-Nya adalah kita lebaran tahun ini dalam suasana prihatin dan membatasi diri. Kue, rumah, mudik, kita nikmati dalam kesendirian. Kemenangan di ujung puasa, kita meriahkan dengan cara lain.
