Opini

Merasakan Hatinya Orang Dayak

Merasakan Hatinya Orang Dayak
Senjata Mandau di dinding
Senjata Mandau di dinding

Saya merasakan hatinya orang Dayak. Saat akan ke Betang Malapi Patamuan dari Kota Putussibau Kapuas Hulu yang berjarak sekira 6 km arah Kedamin Selatan, saya dinavigasi Pak Lajak. Beliau Wakil Kepala Sekolah di Malapi. Pria ini tak saya kenal sebelumnya. Seorang rekan di Pontianak, pengacara, Ambo Mangan mengirimkan nomor kontaknya.

Pak Lajak menuntun saya via telepon. Ia bahkan menunggu di bibir sungai. Saat berjumpa senyumnya sangat ramah. Laksana sudah lama tak jumpa padahal kami belum pernah bersua.

Uluk salam terjabat erat. Lajak bercerita soal Malapi Patamuan, soal tokoh tokoh besar yang terlahir dalam struktur sosial Betang yang menyentuh politik, sosial, budaya, bahkan agama. Dia mengajak menyeberang dengan perahu bermotor. Saya turuti amar “perintahnya”.

Bermain di Betang
Bermain di Betang

Dahsyat man! Sungai membentang indah. Ini kondisi kering dengan Padang pasir yang luas. Terbayang jika air kondah apalagi pasang melimpah, so pasti indah luar biasah…

Di Betang ramai orang. Saya diperkenalkan satu persatu. Semua ramah. Tak ada muka masam di sini. Hatinya orang Dayak tercermin di muka. Hati baik, muka ceria.