Saya melihat sebagian orang bekerja di bibir sungai. Ya mandi, mencuci, mengurus sampan, mengurus jala ikan, mengangkut hasil pertanian. Mereka pekerja keras. Namun hasil pertanian itu tidak untuk kekayaan pribadi tapi bersama.

Mertua saya orang Sintang bilang, dulu saat muda, ketika ke Betang dia dioleh-olehi beras. Masing masing bilik memberi segenggam. Coba bayangkan 100 bilik?
Hal itu pula terjadi kemarin, Minggu. Istri saya ditempel istri Pak Lajak. Saat pamit pulang dia berbisik, “Bu ini saya bawakan beras hasil panen Betang,” katanya seraya berbisik. Tak soal istri dan mertua saya berkerudung atau muslim, di Betang tak ada sekat agama.

Istri dan mertua senang. Cipika cipiki. Ala perempuan bingits. Rasa cinta di hati yang menggelora. Inilah kebersamaan kita di Kalimantan saudara saudara.
Kami pamit. Uluk salam kami tempelkan uang yang tak seberapa. Setengah mati mereka menolak dan setengah mati juga kami memaksa. Itulah kalau bersaudara. Mati Matian menikmati cinta. Amboi indahnya Betang dan kebersamaan. *
