Kawans yang datang dan disuguhi si pisang goreng mau tambah dan tambah. “Lembut. Manis. Legit. Membawa kenyang. Beda dengan yang dijual di pasaran,” katanya. “Secara buahnya begar dan besar. Ini Pisgor digoreng sendiri lagi,” pujinya yang menjadi vitamin saya buat adrenalin merawat dan memperbanyak–menyebar Nipah ke berbagai daerah. Giat Kampoeng English Poernama Agro pada lahan-lahan marjinal.
Satu tandan lagi kini sudah tua. Dua minggu lagi insya Allah panen. Satu tandan ketiga baru diputus si jantung bak ayam menggantung, Sabtu, akhir pekan ini. Tarikh Masehi, 6 Februari. Anakannya pun rimbun. Saya taksir si tandan ketiga akan panen menjelang Ramadhan–Maret atau awal April yang akan datang. So kita sambut Ramadhan dengan gorpis–Goreng Pisang hehehe.
Dari kisah Nipah ini saya baru sadar bahwa kehendak Tuhan itu berdikari. Kiyamuhu Binafsihi. Berdiri Sendiri.
Dia suburkan sesuatu sekehendak-Nya. Kita hanya memindahkan saja. Bahkan tukang kayu pun hanya main lempar saja…kehidupan ajaib terjadi di depan mata…
Saya terkesima.Sebab saya dididik ayah bahwa Allah Sang Maha Pencipta itu menghidupkan setiap makhluk dari alam kuburnya seperti bebijian tumbuh jadi kecambah–sebab disiram air hujan belaka.
