Melansir sumber “Independent” yang dikutip kompas.com, Google tidak segera memberikan komentar terhadap tuduhan apakah mereka yang menghapus Palestina dari Google Maps atau “bug” seperti pernyataan di New York Time. Tetapi bagian dari situs webnya didedikasikan untuk menyatakan batas-batas yang disengketakan, dengan ketentuan: Batas yang disengketakan ditampilkan sebagai garis abu-abu putus-putus. Tempat-tempat yang terlibat tidak menyetujui batas. Dengan demikian, bisa disimpulkan alasan kenapa Palestina tidak ada di Google Maps karena Google menganggap Palestina sebagai wilayah yang masih terlibat sengketa.
Jadi sejak berjumpa para petinggi Google di ajang REDD–Konferensi Cliate Change di Kalteng sekira tahun 2010, sikap Google masih pada koridor yang pernah saya dengar. Bahwa mereka independen dari sikap politik.
Kita bisa berperan memunculkan Palestina di Google Maps dengan turut serta terlibat secara administratif maupun politik memperjuangkan Palestina dari konfliknya dengan Israel. Dalam hal ini tentu saja badan dunia PBB yang punya power atau kekuatan untuk itu. Bagi kita yang tidak mampu mengurusnya sampai ke PBB, biarlah para diplomat kita didorong melalui Kemenlu untuk bersuara tentang batas wilayah itu. Kalau tidak, ya paling lemah dengan doa. Sementara saya menulis saja apa yang saya ketahui tentang Google dengan sikap profesionalitas mereka. Ini kerja orang media. Let’s do it together. *
