Sebagai WNI, saya memiliki hak politik untuk memilih Paslon tertentu. Namun, sebagai seorang akademisi, saya harus melepaskan kepentingan pribadi dan mengangkat Paslon yang memiliki rekam jejak jelas, prestasi tinggi dan mampu membawa kemajuan KalBar.
Netralitas dan Bebas / Tidak Bebas Nilai
Dalam dunia akademis, kedua posisi itu, pilihan pribadi dan akademis, termasuk dalam paradigma/aliran anti/non-positivisme. Pilihan berdasarkan pertimbangan pribadi dan akademis, mengandung keberpihakan/tidak netral (un-neutral) dan tidak lagi bebas nilai (value unfree).
Mengapa bukan positivisme (netral dan bebas nilai)? Karena Paslon adalah manusia. Kita tidak pernah bisa netral dan bebas nilai seperti berhadapan dengan barang mati: batu, besi, semen, tanah, pasir dan benda lain tak berjiwa. Penggunaan paradigm positivisme — berkarakter netral dan bebas nilai – tidak mendorong kita menjadi pemilih cerdas: menyia-nyiakan Paslon yang memiliki rekam jejak (track record) jelas, prestasi/hasil kerja nyata dan tidak juga mementingkan masyarakat luas.
