Opini

Pemilu dan Demokrasi Buah

Pemilu dan Demokrasi Buah

Salahkah durian menguasai pasar? Takdirnya berada di tataran elit rasa–walaupun sesungguhnya dia tajam-berduri. Haruskah dipaksa si raja buah ini turun tahta? Hanya hukum alam berupa cuaca yang mengaturnya apakah seiring dengan produksi buah tropis lainnya atau berselang-seling. Natural of law penentunya.

Sebaliknya, salahkah si rambutan dan si kuning langsat yang tidak bisa membuat konsumen “terliur-liur” untuk mampir mencicipinya? Tidak juga. Cita-rasa itu sudah ditakdirkan oleh si pembuatnya. Itu rahasia Tuhan kepada masing-masing kelompok buah.

Lalu, dari demokrasi pasar buah, apa yang bisa kita ambil pelajarannya? Bahwa setiap jenis dan kelompok itu sudah ada marketnya! Sudah ada kelompok yang suka dan tidak suka. Akan ada kelompok yang pro dan kontra.

Demokrasi buah lokal kita tidak boleh putus hanya silih berganti kontestasi yang senantiasa dimenangkan oleh durian, namun sesungguhnya demokrasi buah impor lebih merajai pasar buah kita. Lihatlah, pada saat membuat parsel buah, yang dibawa ke meja para pembesar, isinya bukanlah durian, melainkan apel, pear, kiwi, anggur.