Begitupula untuk buah tangan ketika mengunjungi sanak-famili ke rumah sakit. Semua itu buah impor…Menilik hal ini, langsat paling memungkinkan untuk didesain sedemikian rupa. Jika pakar hereditas–pemuliaan tanaman kita bisa fokus sehingga dapat memproduksi langsat tahan 1-2 minggu di pasar terbuka, yakin juga laik diparcelkan. Begitupula rambutan, manggis, rambai…
Kepada demokrasi buah yang berorientasi pasar, kita semestinya bisa menggunakan akal sehat. Bahwa kemenangan menguasai pasar itu ditentukan oleh rasa. Oleh tekstur, struktur dan juga kultur.
Rasa legit yang ditawarkan merasuk ke alam bawah sadar konsumen. Harga setinggi apapun rela dipungkasi. Receh di kocek rela diceluk lebih dalam lagi. Pasar yang mengejar…
Kalau demokrasi buah selalu dimenangkan oleh durian, itu sudah takdirnya oleh karena sifat bawaannya. Oleh karena daya survivalitasnya yang tinggi. Dengan harga tinggi saja masih diburu konsumen, apalagi pada saat panen raya dengan harga rendah. Bertuik-tuik masyarakat luas menikmatinya.
Apel, pear, kiwi dan anggur hadir di pasar dengan penampilan yang yahud. Mereka didesain panen tanpa mengenal musim. Mereka hadir di pasaran seperti tak pernah ada putus-putusnya. Sementara soal rasa, terus ada up-date, karena penelitian tentang hereditas mereka ditongkrongi para ahli botani.
