
Sejak pertama jumpa, Erwan menyodorkan dua buah buku kepada saya. Masing-masing berjudul Produktif Sampai Mati dan Membangun Pers Indonesia yang Bertanggungjawab. Kami diskusi soal media bla bla bla. Sampai berlanjut belanja camilan khas Kota Pontianak di PSP sekaligus cari kaos serta batik motif Dayak / Melayu yang khas.
Panjang lebar kami bercerita sampai Jumatan di Mujahidin dan makan siang di Cafe Glean, Jl Tamar. Sayang sekali waktunya singkat sehingga tak sempat dibawa berkunjung ke komunitas-komunitas peduli pendidikan semacam Club Menulis, Kampoeng English Poernama dan gerakan sosial semacamnya….Pukul 15.00 Mas Erwan sudah harus take off via Lion ke Jakarta (transit) kemudian meneruskan penerbangan ke Jogja. “Orang Jakarta tak tahu kalau ada direct penerbangan NAM Air Pontianak-Jogja sampai dua kali sehari. Saya harus berkorban waktu dan tenaga,” ungkapnya seraya mengesalkan pemesanan tiket “kagak” koordinasi terlebih dahulu dengan dirinya. Padahal jurnalis ‘kan kaya info 🙂
