in

Rumah Literasi: SEBUAH CERITA UNTUK KARYA PERTAMA

WhatsApp Image 2020 07 11 at 11.46.17


Oleh: Masruroh

Bismillahirrahmanirrahim…..

Cerita “Pelopor Madrasah Salafiyah di Desa Sungai Asam” adalah buku pertama yang saya tulis dalam program rumah literasi. Buku yang telah saya tulis ini penuh dengan usaha dan doa.

Awalnya saya tidak yakin kalau saya bisa membuat tulisan yang harus sesuai dengan target yang telah diatur di kelas ReL_Jalaluddin Rumi, sebanyak 14 ribu kata. Sesuai aturan Rumah Literasi kami harus bisa membuat tulisan minimal 14 ribu kata untuk bisa dicetak menjadi sebuah buku, dan hal itu bagi saya rasanya sangat mustahil. Akan tetapi rasa kemustahilan itu runtuh tak tersisa ketika saya mengadukan hal tersebut kepada seseorang yang mampu membuka pintu surga untuk saya, (mama).

“Tiada kata mustahil untuk usaha dan doa”. Itulah nasehat mama yang membuat saya semakin bersemangat untuk menulis.

Saya mulai mencari data-data yang berkenaan dengan ayah untuk saya jadikan tulisan, mulai dari orang-orang terdekat ayah seperti mama, bibi, paman, nenek, bahkan orang-orang yang pernah mengenal ayah semasa hidupnya. Dengan informasi yang mereka berikan, banyak cerita ayah semasa hidupnya yang baru saya ketahui.
Ketika proses penulisan buku pertama saya, setiap kata yang akan dirangkai tidak mudah untuk disatukan. Sebagai seorang pemula dalam kepenulisan banyak kata baku yang tidak saya kuasai. Hal itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi sebuah buku. Keterbatasan saya dalam menggunakan laptop masih sangat kurang, sehingga menjadi kendala dalam proses menulis buku ini. Setiap cerita yang saya tulis hanya mengandalkan handphone. Selain itu, saya juga harus membagi waktu untuk kuliah dan bekerja. Di sela-sela kesibukan saya bekerja, saya mencicil tulisan sedikit demi sedikit karena harus sesuai target pribadi yang saya tentukan, minimal dalam sehari saya harus menulis lima ratus kata agar saya bisa mengejar target mingguan yang telah ditentukan.

Baca Juga:  Belajar Baca

Di tengah semangat yang membara dalam menulis, saya mengalami hal yang tidak pernah saya bayangkan. Saat itu tulisan yang telah berhasil ditulis mencapai 9000-an kata, hilang, menyisakan 2000 an kata. Hal itu saya ketahui ketika saya ingin melanjutkan cerita yang akan saya tulis.

Tanpa terasa, saat membuka file itu, cairan bening jatuh dari sudut kedua mata saya. Perasaan sedih yang mendalam saat itu saya rasakan karena untuk mencapai 9000an kata bukanlah hal yang mudah bagi saya. RAM handphone yang tidak mampu untuk memuat file menjadi alasan utama hilangnya ribuan kata yang telah saya rangkai.
Ungkapan rasa sedih itu hanya bisa saya ceritakan kepada sumber kekuatan saya, Mama. Saya ceritakan semua keluh kesah yang tengah dirasakan saat itu, bahkan hampir saya ingin mengakhiri cerita yang saya tulis. Namun, Mama tidak membiarkan hal itu terjadi, beliau terus memotivasi saya untuk terus melanjutkan perjuangan yang sudah saya lakukan. Mama orang yang sangat tahu bagaimana perjuangan saya dalam menulis buku yang ingin saya wujudkan.

Baca Juga:  Reformasi '98

Setiap kata motivasi yang terlontar dari mulut Mama, saya jadikan hal itu untuk meninggalkan keterpurukan yang tengah dirasakan. Saya mulai menulis kembali kata demi kata yang bisa saya satukan menjadi sebuah cerita, dan tanpa terasa kata itu berhasil saya kumpulkan melebihi jumlah kata yang telah ditentukan.

Ketika cerita-cerita itu telah berhasil saya selesaikan, saya mencoba mengirimkannya kepada mentor kelas, Kak Saripaini. Saat itulah perjuangan itu dimulai, banyak dari kata yang telah saya tulis dikoreksi olehnya. Banyak sekali yang harus saya perbaiki ulang, mulai dari huruf kapital, tanda baca, dan lain sebagainya. Dengan arahan dan bimbingan dari kakak mentor, buku itu berhasil diselesaikan dengan cerita yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Tepat pada 14 Juni 2020 buku itu dinyatakan selesai perbaikan.

Pada 22 Juni 2020 buku itu berhasil dicetak. Rasa haru bahagia saya rasakan saat itu. Ketika buku itu saya bawa pulang ke rumah, Mama, bibi, keluarga dan teman-teman juga merasakan hal yang sama.

Semoga buku sederhana ini, bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian utamanya bagi saya sendiri. Alhamdulillah… (Peserta Program Rumah Literasi, FUAD).

Written by teraju.id

WhatsApp Image 2020 07 11 at 08.55.11

National Seminar Quo Vadis Meaning of Heroism in Indonesia: Strengthening Indonesianness through the Proposal of SULTAN HAMID II as National Heroes

WhatsApp Image 2020 07 11 at 11.54.59

Rumah Literasi: Sebuah Cerita untuk Karya Pertamaku