Pada tahun 1874 teuku Bentara mahmud tiba2 wafat, Pd th 1875 beliau digantikan oleh keponakannya T.Chik Syamaun, sedikit demi sedikit perselisihan mulai terjadi dgn penguasa kemukiman Glumpang dua yg tak lain adalah saudara sepupunya sendiri, T. Bentara Husin. Sementara itu pd th 1881, pasukan Belanda yg dipimpin jenderal Van der Heijden telah sampai di samalanga, pecah perang tak dapat dihindari.
Pocut meuligoe adik dari teuku chik bugis yg saat itu menunaikan ibadah haji memimpin pertempuran di front barat melawan belanda. Pasukan belanda sendiri mulai kewalahan menghadapi pasukan pocut meuligoe, situasi ini mulai dibaca oleh jenderal Van Der Heijden, agar semangat perlawanan perang sabil di samalanga jgn sampai menjalar ke peusangan raya maka taktik devide et impera mulai disebar di wilayah peusangan.
Ternyata perangkap yg dipasang belanda ini berhasil, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah peusangan raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan ampon chik syamaun menyerang kuta panjoe, pusat pemerintahan glumpang dua. Kuta panjoe jatuh ke tangan pasukan ampoen chik syamaun, penguasa glumpang dua saat itu Teuku bentara Husin melarikan diri ke wilayah sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer.
