Saya membaca rencana pembangunan pagar pembatas Fakultas Pertanian dan kawasan Arboretum UNTAN beberapa waktu lalu dari media lokal yang terbit di Pontianakdan cerita beberapa rekan alumni UNTAN. Tapi saya merasa hal ini tidak akan menjadi masalah ketika di hari-hari berikutnya saya juga membaca upaya para pihak baik di internal UNTAN (Rektor, Dekan Fakultas Pertanian, dan Dekan Fakultas Kehutanan) maupun pihak luar kampus seperti Pemerintah Kota Pontianak untuk mencari solusi terbaik terhadap rencana pembangunan pagar pembatas ini.
Namun, kiriman foto dan video teman saya tersebut sangat mengagetkan saya. Rangkaian foto ini seolah bercerita, pagar beton pembatas yang menjadi polemik tersebut ternyata pelan-pelan terus kokoh berdiri. Tentu saja ini sangat ironis, di tengah dunia ilmu pengetahuan yang terus berkembang, dan kesadaran pentingnya pemahaman dan integrasi antar disiplin ilmu membuat dinding-dinding pembatas antar keilmuan semakin cair dan runtuh.
Kita kini mengenal desk keilmuan baru seperti sosiologi ekonomi yang berkembang sejak tahun 1980-an, sejalan dengan berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat, baik di negara-negara maju maupundi negara-negara berkembang yang terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui berbagai kebijakan pembangunan.
Kita juga mengenal ilmu antropologi arsitektur, yang mencoba memelajari bagaimana manusia, dengan bantuan kebudayaannya, membangun relasi bentuk-fungsi-makna yang tampil dan diekspresikan pada karya-karya arsitektur.
