Selama sang suami menekuni dunia jurnalistik, meski diketahui Aliaswat adalah alumni sekolah pamong bestuur di Makassar seangkatan AA Baramuli dan Bausat, namun lebih kentara sebagai tokoh Kalbar yang sangat kritis dan idealis.
Hajah Siti Khadijah dengan latar belakang sebagai praktisi pendidik, kurun tahun 1950-an hingga 1970-an turut bergelut di dunia pers Kalbar. Mendampingi sang suami selaku pimpinan usaha dari koran-koran milik mereka.
Alih-alih turut jatuh cinta pada dunia pers, almarhumah juga ikut andil dan meski tak terlalu aktif, namun tercatat sebagaj pengelola SPS, Serikat Penerbit Suratkabar Kalimantan Barat.
Bersama Ibrahim Saleh, Aliaswat Saleh, Basrin Nourbustan, Sukirdi Hartopartono dan Basri HZ, semuanya sudah almarhum, Siti Khadijah di tahun 1970-an menemui Gubernur Kalbar Kolonel Kadarusno.
Pertemuan mereka menghasilkan kesepakatan, Pemda Kalbar ketika itu menghibahkan dan membangun gedung permanen untuk aktifitas PWI Kalbar.
Dan kembali Siti Khadijah diminta memimpin IKWI Kalbar.
Selama kurun aktifitasnya itu, perhatian untuk kesejahteraan keluarga “para kuli tinta” dan “mat kodak” Kalbar sangat memuaskan.
Sekalipun bukan seorang praktisi jurnalis, namun keberadaannya mendukung suksesnya sang suami Aliaswat Saleh sebagai salah seorang pesohor pers Kalbar era 1950-1970-an.
