Cerita Slomang, ini nyaris serupa dengan saudara floranya, bunga atau daun keladi. Yang sekarang sedang digilai oleh emak-emak, sambil mengisi kegiatan di sela-sela menjadi guru bagi anak di rumah. Keladi yang habitatnya juga di daerah rawa dan basah, tidak jauh-jauh juga dari parit. Kini naik tahta, berpindah ke pot-pot mahal dan di pajang di teras dan ruang tamu. Harganya juga bukan main, ada yang sampai jutaan rupiah.
Meskipun ada di antara namanya yang tidak enak didengar. Anda tahu sendirilah. Tidak sampai hati saya menyebutnya.
Ilmu perselomangan dan perkeladian (slomagology dan keladiology) memberikan saya pengajaran tentang hidup. Dengan sedikit sentuhan Midas (bukan dalam artian sombong) para penghoby, dan treatment sains yang sederhana, serta taste estetis yang tinggi, kedua hamba Tuhan yang semula habitatnya di parit dan rawa, naik pamor dan kastanya. Tidak hanya terangkat status sosial diantara kolega flora dan fauna lainnya, akan tetapi memberikan “harga kepuasan” yang tinggi bagi manusia. Dari segi harganya bisa menjadi tambahan income yang memadai, dan menjadi inspirasi tentang keindahan dan kepuasan.
Di tengah “kesenduan” hidup akibat pandemi Corona, dan silang sengakrut perpolitikan yang semakin dalam keterbelahannya, hadirnya Slomangology dan keladiology menjadi “penghibur”. Setidaknya menghibur mata, hati dan dompet. Dan yang paling tidak disadari, para penghoby kini sebagian orang dewasa.
