Tadi malam, Rabu, 17 Juni 2020 saya, Ketua Yayasan Hamid – Anshari Dimyati, Muhammad Yaser Tsaifuddin, Untung Dwiyani dan Wawan menikmati kopi hitam di panggung Kampoeng English Poernama. Kami membahas perkembangan terkini dari pernyataan Prof Dr AM Hendropriyono yang terus viral, disambut cuitan FaceBook Denny Siregar maupun Permadi Arya. Rupanya kami semua sama, tidak terbakar api emosi demi membaca dan mendengar kalimat yang keras-keras, pedas-pedas. Termasuk kalimat bahwa pengusulan Sultan Hamid II adalah salah alamat. Bukannya ke Indonesia tapi ke Belanda. Masya Allah….

Bahkan ada yang mendoakan pengusul gelar pahlawan nasional untuk Hamid dicap sama-sama pengkhianat negara. Tak apa-apa. Kami tak bergeming karena kami punya temuan faktuil yang mau diapakan, memang begitu adanya. Kami hanya bersandarkan kepada perlundungan Allah SWT, seperti amanah leluhur Bangsa Indonesia di sila pertama, bahwa kita ini punya Tuhan Yang Maha Esa. Yang oleh Sultan Hamid dalam memberikan simbol, bukannya bintang bersudut lima, tetapi nur cahaya ilahiah. Pada nur cahaya ilahi ini kami mohon kekuatan dan kesabaran. Mohon diberikan petunjuk – pencerahan agar mampu melaksanakan nilai-nilai Pancasila yang luhur, yang dengan cahaya ilahiah itu kami bisa lebih beradab dalam kata-kata dan tindak-tanduk berkehidupan kebangsaan Indonesia, persis nilai universal di sila kedua Pancasila: kemanusiaan yang adil dan beradab. Kami bicara pelurusan sejarah adalah bicara sila kedua Pancasila yakni menegakkan keadilan dan keadaban.