Rupanya sama dengan saya yang sedang menebar pandang mencari-cari sosok penelepon. Maka yang order buku juga awas pada titik pintu masuk resto dari lobby yang luas berplafon tinggi hampir 30 meter itu. Tangannya melambai di ketinggian sehingga tampak dari kerumunan orang mengelilingi meja-meja bundar, di mana ratusan pegawai sedang menikmati juadah rehat plus ciak kopi atau teh panas.
“Nooor, sinek…” Suara Sekda setengah berteriak. Beliau memang ceplas-ceplos. Orangnya periang. Juga pencerita kelas wahid. Jika bersamanya bisa meledak-ledak tawa kita. Ada ada saja kisahnya. Termasuk sejarah.
Saya segera merudu meja VIP itu. Tabek-tabek beruluk salam.
Kepada tamu pentingnya, Sekda mempersilahkan saya duduk di sebelahnya. Kemudian saya diperkenalkan sebagai wartawan, satu dari tiga penulis buku biografi politik Sultan Hamid disamping seorang dosen hukum Untan (Turiman Faturahman Nur) dan Ketua Yayasan Hamid (Anshari Dimyati). Di hadapan saya juga diperkenalkan seorang dosen dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), namanya Mahendra Petrus.
Buku biografi Hamid saya buka dari tas dan berpindah tangan ke Sekda. Dari Sekda diserahkan ke Mahendra Petrus.
“Pak Mahendra mau baca sampai tuntas. Beliau juga tertarik untuk meneliti sejarah Sultan Hamid terkait beliau aparatur sipil pengajar ASN tentang naskah/dokumen dinas dan lambang negara.”
Kami ngopi. Saling bertukar cerita. Dan tentu saja berbagi nomor kontak.
Kami berpisah karena acara harus segera dimulai dan Sekda akan bergerak ke acara lainnya yang harus dia hadiri di lain tempat. Saya tak berusaha mengingatkan bahwa Sekda super sibuk ini lupa kasih ganti cetaknya hehehe.
