Soal keadilan dan keadaban ini ada kisah menarik antara Sultan Hamid dan Bung Karno. Wabilkhusus saat Soekarno menjelang sakaratul maut. Kita tahu Soekarno diasingkan Soeharto dengan klaim Gestapu. Gugur 7 Pahlawan Revolusi. Keluarga batihnya dihambat untuk menjenguk dan merawat Sang Proklamator. Adalah Hamid Alkadrie, mantan Menteri Negara Zonder Porto Folio di masa Kabinet RIS yang sudah bebas dari tahanan–yang notabene ditahan di masa Soekarno berkuasa–datang mendampingi masa jaza’ alias sakaratul maut. Di kuping Sang Proklamator Hamid yang didampingi sekretaris pribadinya Max Jusuf Alkadrie membisikkan kata, “Bung saya minta maaf atas segala salah dan khilaf, dan kesalahan Bung juga sudah saya maafkan.”
Kisah sentimentil itu disampaikan Max Jusuf kepada kami. Juga dapat Anda simak di Chanel Youtube dengan judul Garuda Pancasila Indonesian Symbol sebuah episode sejarah bangsa yang menujukkan keadaban tingkat tinggi berupa maaf memaafkan. Bukannya tontonan saling cerca dan caci-maki. Benar-benar bukan keteladanan leluhur yang luhur.
Kisah Max, Bung Karno saat akhir hayat itu meneteskan air mata tanda Beliau mendengar. Kemudian turunan Nabi SAW dari trah Alkadrie ini membimbing kalimah syahadah. Hingga Bung Karno menghembuskan napasnya yang terakhir. Saya pikir ini episode indah dua sahabat di Kabinet RIS, sesama pejuang Indonesia Raya. Insya Allah keduanya husnul khatimah, di mana Bung Karno di akhir hayatnya wafat mengucapkan kalimah syahadah sedangkan Hamid Alkadrie wafat di kala Beliau sedang sujud, shalat magrib di Jakarta dan dimakamkan di makam keluarga Istana Kesultanan Qadriyah-Batulayang-Pontianak Utara. Alfatihah.
