Sekedar catatan, bahwa Jepang melakukan genosida di Kalbar dengan jumlah korban 21.037 jiwa. Yang dibantai adalah para cerdik-cendikia. Lebih awal kisah pembantaian sadis ini dari Peristiwa Westerling di Makassar dengan jumlah sebanyak 40.000 nyawa. Syaf menulis buku diterbitkan Grup Gramedia berjudul Mandor Bersimbah Darah.

Terkait Peristiwa Westerling yang melibatkan nama Sultan Hamid, menurut awak media yang kini juga mengajar di prodi komunikasi Fisip Untan, tak terbukti bersalah. Baik pemberontakan APRA di Bandung, maupun Peristiwa Westerling di Makassar-Sulawesi Selatan. “Westerling dia tampar! Dia marahi karena kenapa membunuh saudara-saudaranya sebangsa setanah air tanpa sepengetahun dirinya?”

Sebagai jurnalis muda saya hanya mendengar dan tidak bisa konfirmasi kepada Sultan Hamid maupun Westerling apakah benar peristiwa penamparan itu. Kalau betul tentu tak patut mengait-ngaitkan Hamid dengan keganasan Westerling seperti tuduhan viral Prof Dr AM Hendropriyono, Youtube, 11 Juni 2020.

Namun belakangan saya tahu kalau Sultan Hamid memang suka menampar orang yang menurutnya salah. Salah seorang yang ditamparnya dengan telapak tangan dan punggung tangan adalah Van Mook, Gubernur Hindia Belanda! Kisah ini dituturkan oleh Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting, seorang tokoh muda yang menguasai adat Dayak khususnya Kapuas Hulu / Dayak Taman dan bersahabat dekat dengan Sultan Hamid kala diskusi terfokus di Pusdiklat TOP Indonesia (2013). Bahkan sampai akhir hayatnya Massuka Djanting masih menyimpan dengan rapi dua hadiah Hamid kepadanya, yakni gelas kaca bening beraksara Arab dan sebuah baju kaos tanpa kerah.