Telepon Nokia Communicator saya berdering. Saya tengok kembang-kempis aksara terbaca Om Max. Saya angkat. “Oi Nooor. Kau ade jumpe Mahendra kah? Di Kapuas Palace? Semalam?”
“Oiya Om. Ada. Minta buku Sultan Hamid.”
“Iye. Memang Om kasih tahu, kalo ke Pontianak kontak jak Nuris. Die wartawan. Salah satu penulis buku Hamid. Syukorlah kalok dah ketemu. Tros dah kau kasikkan bukunye?”
“Udah Om. Buku semata wayang. Dah habes. Ana pon dah tak megang kecuali softcopy di laptop.”
“Nantek kite cetak agek. Biar cetak terbatas.”
Max Jusuf adalah sekretaris pribadi Sultan Hamid. Ia tinggal di Jakarta kawasan Jeruk Purut. Rumahnya sederhana yang dari teras depan nampak menara ESQ 165 yang bertuliskan kalimah Allah dan merupakan bagian mesjid. Tak jauh dari gang sempit sebelah rumahnya ada pemakaman muslim yang luas.
Max sehari-hari bekerja sebagai orang media. Dia adalah orang Kalbar yang berkhidmat di ibukota. Sebagai pusat informasi dan bisnis dia beroleh akses untuk terima order iklan bagi radio dan koran di Jakarta. Hal itu mudah dia lakukan karena dia aktif di PRSNNI maupun wakil Akcaya atau Pontianak Post di DKI Jaya.
Saya mengenal Max Jusuf secara dekat sejak 1997 ketika saya menjadi reporter di Radio Volare. Sebab dia setiap kali terbang ke Pontianak selalu ada waktu ke studio di kawasan Jalan Sumatera No 28 Pontianak. Pemilik kepala plontos ini suka kasih masukan soal penggunaan kata Bujang Dara yang seharusnya disebut Bujang Dare pakai e. Ia orang vokal dan suka mengkritik. Katanya, itu warisan Sultan Hamid, kakeknya sekaligus gurunya.
