“Orang Kalbar aros diritik supaya maju. Siape yang suke terima kritik die cepat sukses. Kalo pendek tongkeng, ‘a tekesop dari kemajuan.” Begitu bahasa keramatnya kalau berkhutbah kasih petuah.

Max Jusuf sebenarnya sudah saya kenal lebih surut ke belakang. Sejak usia SD. Sejak saya bisa baca koran. Yakni Koran Masuk Desa masa Orba. Nama Max Jusuf ada di dalam boks redaksi. Tapi baru sekali dua kali jumpa di tahun 1992 ketika saya mulai menjadi aktivis pers kampus di Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan. Ada sahabat di Mimbar Untan yang sudah jauh lebih awal mengenalnya yakni Syafaruddin Usman. Lewat Syaf saya mengenal figur Max lebih dekat, karena Syaf selain aktif di Mimbar Untan dia juga “dihire” Akcaya Pontianak Post sebagai wartawan. Akcaya milik Pemprov Kalbar kemudian dibeli Dahlan Iskan big boss Jawa Pos.

Sejak kenal dekat di masa itu, setiap kali Syaf dikirimi bahan berita atau naskah sejarah, saya juga dapat dari Om Max. Termasuk sekali dua kali dengar nama Mahendra Petrus dari Om Max.