Opini

Tantangan Itu Palu Nalar, Tak Sekedar Palu Arit

Tantangan Itu Palu Nalar, Tak Sekedar Palu Arit

Namun ada yang lebih penting dalam hidup. Yaitu, konsep Ketuhanan. Bagaimana bisa kita bernegosiasi dengan paham tersebut, bila peletak dasar pertama ideologi itu tak percaya Tuhan? Ajaran tentu turun menurun. Tak boleh bila tak lengkap diceritakan, namanya ada karena diabadikan oleh penerusnya. Tentu menjadi bahaya bila dia bertentangan dengan Islam, dan dalam sejarahnya pernah berupaya memaksakan pahamnya dengan kekerasan.

Karl Heinrich Mark (1818 – 1883). Pria asal Prusia (Kerajaan Bangsa Jerman) ini memiliki darah Yahudi di dalamnya. Dulu dia seorang Protestanisme, tapi kemudian hari memilih untuk tak beragama, tak percaya pada keberadaan sang pencipta. Atheis (Ateisme) menjadi pilihan hidup, sembari meninggalkan gagasan kontroversi bernama “Manifesto Komunis” bersama Friedrich Engels, “dua guru besar sosiologi dan pemimpin pergerakan kaum buruh modern”, hingga hari ini.

Paham yang diciptakannya itulah yang kemudian hari diikuti jejaknya oleh Vladimir Lenin yang memimpin pembantaian 7 juta orang dalam Revolusi Bolsevik di Uni Soviet. Pemikiran yang sangat berbahaya dari dirinya adalah pernyataan dalam tulisannya “Sosialisme dan Agama”, yang menyebutkan bahwa “agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi, dan penyebutan agama seseorang dalam dokumen harus dibatasi”. Ini tentu melanjutkan cara berpikir Karl Marx bahwa “agama adalah candu bagi umat manusia”.