Rasulullah SAW. menjelaskan:
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu’ (merendahkan hati), hingga tidak ada seorang yang membanggakan diri di hadapan orang lain, dan tidak ada orang yang menganiaya terhadap orang lainnya. (HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar).
Hadis ini jelas bahwa tawadhu’ adalah etika Islam atau kualitas spiritual yang sangat tinggi, merupakan pesan wahyu Allah kepada Nabi SAW. bahkan dengan tegas, bahwa sifat tawadhu’ ini bisa mengikis dan menghilangkan kesombongan dan kezhaliman.
Banyak hal yang menyebabkan orang sombong, antara lain karena kekayaannya, jabatan atau kedudukannya, ilmunya, keturunannya, dan lain-lain. Kesombongan inilah yang kemudian memudahkan berbuat aniaya, berbuat semaunya, berbuat sewenang-wenang. Maka dengan sifat tawadhu’ inilah yang bisa mengatasinya.
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW. semakin mempertegas bahwa Allah akan mengangkat derajatnya orang yang tawadhu’.
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
