Opini

Tawadhu’ Itulah Kualitas Spiritual Diri

Tawadhu’ Itulah Kualitas Spiritual Diri
Dr H Wajidi Sayadi

Mengapa Al-Qur’an mengungkapkan bahasa kiasan Ini dengan istilah sayap burung?

Pertama, karena biasanya burung itu terbang tinggi dengan mengandalkan sayapnya. Manusia yang merasa dirinya tinggi, seperti tingginya burung yang sedang terbang, itulah kesombongan. Maka diperintahkan merendahkan sayapnya, dalam pengertian merendahkan hati untuk tidak sombong.

Kedua, burung biasanya merendahkan sayapnya pada saat hendak mendekat dan bercumbu dengan betinanya atau ketika ingin merangkul dan melindungi anak-anaknya.
Maksudnya, bersikap lemah lembut, rendah hati, harmonis, melindungi, tabah dan sabar bersama orang-orang beriman, terutama ketika sedang susah dan krtitis.
Artinya ciri tawadhu’ adalah bersikap lemah lembut dan harmonis.

Dalam ayat lainnya, Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. an-Najm, 53: 32).

Maksudnya jangan memuji-muji diri apalagi sampai membangga-banggakan diri. Jangan merasa diri lebih saleh, lebih rajin beribadah, lebih banyak amal ibadah, lebih ‘alim, dan lain-lain. Dengan menghindari sifat dan sikap seperti ini, maka diharapkan akan melahirkan sifat dan sikap tawadhu’.