Seorang wartawan dari “Washington Post” memberitakan dari Jakarta bahwa di Jawa Timur saja telah terbunuh 250.000 orang, demikian menurut sumber dari golongan Islam. Lebih lanjut “Washington Post” memberitakan bahwa puncak pembunuhan dan teror itu pada bulan November 1965. Kepala – kepala manusia telah dijadikan hiasan (decorasi) pada suatu jembatan. Di tempat lain orang melihat bahwa mayat – mayat tanpa kepala dihanyutkan di sungai – sungai di atas rakit dalam deretan yang panjang. Sungai Bengawan Solo yang indah permai ketika itu penuh dengan mayat – mayat sehingga di sementara tempat kadang -kadang airnya tidak terlihat tertutup oleh mayat-mayat itu. Sungai – sungai itu airnya menjadi merah karena darah Rakyat. Pokoknya ketika itu Indonesia seperti neraka demikian tulis Washington Post.

Sementara itu harian Inggris “Economist” memperkirakan bahwa korban yang jatuh karena pembunuhan dan teror itu mencapai 1.000.000 orang.
