Saya pulang dari Singkawang di hari Minggu, 13 Juni 2020 pukul 15.00. Seperti protokol Covid-19 saya segera buka baju dan mandi. Namun setelah mandi dan jamak takhir qoshar antara zuhur dan ashar, kantuk segera menyerang. Maklum menyetir sendiri sejak subuh hari. Tubuh ini menagih rehat.
Namun berpikir betapa pentingnya pertemuan dengan Anshari Dimyati dan Syarif Abdullah Alkadrie, saya lawan kantuk dan lelah tersebut. “Ini kepentingan negara. Lebih besar dari sekedar rehat pribadi Nur Iskandar.” Begitu pikir saya.
Tiba di Gedung DPW Nasdem Jl Abdurahman Saleh, Aan sudah berada di ruang rapat utama bersama Syarif Abdullah Alkadrie yang didampingi istri dan putra-putrinya. Dia dikitari keluarga lengkap karena dirayakan Ulang tahunnya di Gedung Nasdem. Rupanya baru saja keluar pagar Walikota Pontianak Edi Kamtono dan Bupati Sintang Jarot Winarno. Saya masih dapat menikmati tart ultah dan kue lapis legit berikut secangkir kopi hitam.
Abdullah Alkadrie sebenarnya hanya ingin mengumpulkan bahan terbaru tentang Sultan Hamid dari Yayasan Hamid. Namun dari arah lainnya ada kontak dari Ir Arif Joni pimpinan PKS Kalbar yang risau atas pernyataan AM Hendro. Ia yang baru landing dari Ketapang segera merapat ke Nasdem. 20 menit dari airport. Ia ikut bergabung. Ia menyampaikan salam Hidayat Nurwahid yang juga galau atas pernyataan Hendro.
