Jokowi meminta Mensos yang saat itu dijabat Chofifah Indar Parawansyah menerima Yayasan Hamid. Saya turut serta ke Kemensos bersama Turiman, Anshari, dan Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, yakni Max Jusuf Alkadrie. Max Jusuf juga menggandeng Sang Istri, Yetti Alkadrie (sejak Max wafat awal 2019, Yetti menggantikan posisinya sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Hamid).

Ketika menyimak uraian perjuangan Hamid, Mensos yang didampingi sejumlah dirjen langsung menegaskan agar segera diusulkan Hamid sebagai Pahlawan Nasional. Dan sejak saat itu pula semua syarat diajukan. Dan sampai sekarang gelar itu belum kunjung di-SK-kan Presiden lantaran masih ada “sakal” di dalamnya. Konon kami mendengar bahwa salah satu anggota tim Dewan Gelar, yakni Prof Dr Anhar Gonggong keras menolak pengajuan Sultan Hamid II Alkadrie sebagai pahlawan nasional.

Presiden Jokowi yang berkali-kali kunjungan kerja ke Kalbar kerap kali ditagih soal penganugerahan gelar pahlawan nasional terhadap Hamid akhirnya mengirim Prof Dr Anhar Gonggong ke Kalbar via Dinas Sosial medio 2019. Bertemulah Anhar Gonggong bersama Yayasan Hamid dan terjadi perdebatan sengit. Saya menyajikan siaran langsung via FaceBook saat itu, sehingga detail uraian Prof Anhar Gonggong bisa disimak. Di sana, salah satunya dia menyatakan secara subyektif, bahwa memang benar dia keras menolak Hamid jadi pahlawan nasional lantaran Hamid tidak berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, Hamid pro Belanda, bahkan, “Di mana muka saya hendak ditaroh, karena paman saya juga mati dalam peristiwa Westerling.” Begitu katanya.