Hari ini Abangku berulangtahun ke-56. Menurutnya semakin matang dan berorientasi “lelahku lillah”. Saya banyak belajar dari alur tracking beliau.
Abang kebagian azan, saya qomat. Abang imam, saya makmum. Abang baca doa pembuka dan saya penutup.
Begitulah Bapak mendidik kami di rumah. Di luar kebiasaan bapak sebagai guru, penghulu, dan ASN Kementerian Agama serta salah satu imam Mesjid Raya Mujahidin pada era imam besar HA Rahim Dja’far dimana kami dilibatkan berbagai urusan. Terutama jika Mesjid Raya Mujahidin kedatangan ulama-ulama besar. Sebut misalnya KH Hasan Basri–penerus Prof Hamka asal Banjar-Kalsel sebagai Ketua MUI. KH Syukron Makmun asal Madura-Jatim. KH Miftah Farid asal Bandung-Jawa Barat guru Aa’ Gym. Hingga KH Zainudin MZ-dai sejuta umat. Kami bertugas sebagai juru rekam dengan membawa tape recorder merk Sharp dan beberapa kaset kosong merk Sony atau Basf Award. Nanti di rumah, kajian ulama diputar-putar ulang sebagai bahan kajian. Tak heran kalau kami anak-anak H Hasan Bin H Abdurrahman Bin HM Nur Bin H Daeng Sagoni kerap jawara lomba pidato dan pengerah massa…
