Politik

Jahat dan Penjahat

Jahat dan Penjahat

Tetapi, sejauh ini kosa kata itu hanya mengalami pergeseran makna dari makna umum yang dipahami saya.

Pembentukan kata –tambahan morfologi– dari proses itu jarang digunakan. Si Abang baru bisa menggunakan kosa kata “Penjahat” dalam konteks khusus, merujuk pada film yang dia tonton.

Penjahat dipahami merujuk pada sosok tertentu. Profil orang.

Dan, hal ini sebenarnya pernah ditiru saat dia “berlakon” seperti dalam film kartun India, Shiva. Dalam lakon yang disutradarai sendiri, ada yang berperan sebagai Shiva dan ada yang berperan sebagai Penjahat.

“Aku jadi Shiva, kau jadi penjahat”.

Hanya, penjahat. Sebagai ciri dan sekaligus nama rujukan. Tidak menggunakan nama khusus atau nama diri dari orang yang diidentifikasi.

Soal pemerolehan kata itu, saya tidak tahu kapan dan dari mana mereka mendapatkan kosa kata jahat itu. Sedangkan kosa kata penjahat pasti diperoleh dari film kartun TV yang ditontonnya.

Begitulah… kalau bicara pemerolehan bahasa. Bahasa bisa diperoleh melalui banyak cara dan jalur. Kita tidak bisa menghambatnya. Tidak bisa kita hilangkan kosa kata “jahat” dan “penjahat” dari kamus bahasa mereka hari ini, sekalipun saya sangat ingin melakukannya . Begitu juga kosa kata yang lain yang saya tidak suka.