in

Dua Perisai Pancasila dan Makna Pindahnya Ibukota ke Jantung Kalimantan

Kearifan lokal dalam bentuk dua perisai. Perisai besar dengan perisai kecil berwarna hitam laksana jantung--sebagai pola kiblat / kakbah--dengan merah-putih bertawaf sekelilingnya

Oleh: Nur Iskandar

Siapakah yang sanggup merancang sampai detailnya sedalam ini ya? Perisai Garuda Pancasila itu ada dua. Perisai bagian luar dan perisai bagian dalam.

Perisai bagian luar dikitari dasar warna merah-putih. Merah berani. Putih suci. Lambang negara dalam bentuk bendera.

Ada empat ruang dari perisai luar Pancasila. Ia memuat nilai idiologi negara, yakni sila ke-2 sampai sila ke-5.

Perisai bagian dalam itu dasarnya warna hitam. Itulah jantung kita semua. Kalau jantung berhenti berdenyut, matilah kita. Sementara secara spirituil, perisai hitam itu adalah kakbatullah lengkap dengan halaman bermain Hijr Ismail dari rumah yang dibangun Bapak para Nabi di muka bumi–Ummul Ambiyai wal Mursalin–Ibrahim Alaihissalam. Dari turunan Ibrahimlah mekar agama-agama tauhid yakni Yahudi (Musa), Nashrani (Isa atau Yesus) dan Islam (Muhammad SAW). Bagi umat Islam, kakbah juga adalah jantungnya bumi yang fana ini. Jika sudah tidak ada lagi umat Islam yang “betul” menjadikan kakbah sebagai kiblatnya, maka kiamat atau matilah planet bumi ini. Orang-orang mukmin yang bertawaf di kakbah itu pula “thawaf” sila kedua, sila ketiga, sila keempat dan sila kelima.

Coba simak cara baca Pancasila dalam perisai, setelah sila pertama, ia bergerak gilir-balik seperti pola tawaf pula. Sila pertama berupa cahaya ilahi disimbolkan dengan bintang emas bersudut lima diletakkan pada jantung atau kakbah ini. Sila kedua ke wilayah merah dan terus naik ke kiri balik. Di ruang merah itulah disimpan simbol rantai, simbol kesempurnaan manusia (pria-wanita–lingkar perempuan-rantai kotak laki-laki–diambil dari Dayak Taman-Uncak Kapuas). Sila ketiga di ruang putih dipasang simbol beringin. Gilir balik ke kiri terus bertawaf menuju ruang merah lagi dengan simbol kepala banteng. Lalu sila kelima di ruang putih ditempatkan simbol padi dan kapas. Sungguh filosofis. Sunguh dalam. Sungguh kejam bagi yang tidak kenal Sang Perancang. Sungguh jauh dari penghargaan jika Sang Perancang tak layak disebut Pahlawan. Sementara Garuda rancangannya menoleh ke kanan. Hukum fardhu ‘ain dalam shalat yang menghadap kiblat. Hukum fardhu ain juga sebagai umat manusia sesama manusia dan lingkungannya untuk berbaik sangka. Untuk melihat sesuatu secara positif. Menoleh ke kanan! Padahal dalam rapat parlemen sempat juga ada usulan agar Garuda Pancasila menoleh ke kiri!

Harap pembaca tahu, bahwa Sang Perancang itu adalah zuriyat Rasulullah Muhammad SAW yang turun temurun sampai ke Alhabib Husin yang menikah dengan putri Dayak, Nyai Tua di Ketapang. Putranya Sultan Syarif Abdurrachman Akadrie yang mendirikan Kesultanan Alqadriyah Pontianak juga menikah dengan putri Opu Daeng Manambon, di mana Opu menikahi putri Dayak Nyai Kesumba yang melahirkan Putri Chandramidi. Putri Chandramidi dinikahi Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie. Sultan Hamid II adalah keturunan ketujuh atau Sultan Ketujuh yang menjadi Raja Pontianak. Sungguh di dalam lambang negara ada garis tebal Kha-TULIS-tiwa pertanda Kalbar dengan ibukota Pontianak si Kota Equator. Juga ada rantai Dayak Taman–tapal batas negara Uncak Kapuas. Juga perisai itu adalah perisai Dayak. Betapa sang perancang jeli melihat masa depan Indonesia. Tak heran jika kelak di kemudian hari Ibukota Negara Indonesia adanya di jantung Kalimantan.

Memang tidak ada yang serba kebetulan. Semua sudah dituliskan di alam langitan. Kita hanya bisa membaca alam dengan sejarah yang bisa diteliti dan dihayati–bahwa ibunya perisai adalah Dayak–ibukota kembali ke Borneo–the original people of Dayak.*

Berbagi itu indah:

Gubernur itu Penguasa, Bukan Pengasuh, Maka Wajar Jika Ia Marah

Arahan Langit